Konteks Peristiwa
Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, mengonfirmasi penyelidikan aktif atas insiden keamanan siber berskala besar setelah aktivitas transaksi mencurigakan terpantau menguras aset digital dari dompet operasional (hot wallet) perusahaan. Juru bicara Binance, Ross O'Leary, menyatakan bahwa bursa untuk sementara menghentikan layanan penarikan (withdrawal) di sejumlah jaringan blockchain utama sebagai langkah pencegahan (precautionary measure) sembari tim investigasi menelusuri aliran dana yang terekspos.
Laporan awal yang dihimpun oleh The Wall Street Journal dan analisis data on-chain dari Arkham Intelligence mengindikasikan bahwa peretas diduga telah memindahkan aset kripto senilai antara 5,6 miliar ke alamat Ethereum baru. Pola transaksi menunjukkan perpindahan kilat puluhan token dari dompet berlabel "Binance 14", menjadikannya potensi pencurian kripto terbesar dalam sejarah bursa digital yang melampaui rekor peretasan Bybit senilai $1,4 miliar pada 2025.
Merespons pergerakan dana mencurigakan tersebut, penerbit stablecoin Tether dan Circle langsung mengambil tindakan defensif terkoordinasi. Tether membekukan aset senilai sekitar 1,56 miliar yang terafiliasi dengan alamat peretas, sementara Circle memblokir transfer USDC senilai lebih dari $800 juta guna membatasi likuidasi aset di pasar sekunder. Pendiri sekaligus pemegang saham mayoritas Binance, Changpeng Zhao, menyatakan melalui akun X resminya bahwa indikasi peretasan memang tampak nyata, namun ia menegaskan ekspektasi bahwa seluruh saldo dana pengguna akan terlindungi sepenuhnya (fully covered).