Konteks Peristiwa
Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM) bersama Kementerian Sains dan Teknologi (MOST) secara resmi merilis Pengumuman Bersama No. 48 Tahun 2026 yang mengusulkan pembaruan menyeluruh terhadap Katalog Teknologi yang Dilarang dan Dibatasi Ekspornya (Catalogue of Technologies Prohibited or Restricted from Export). Dari total 40 teknologi strategis yang diajukan dalam draf revisi tersebut, sebanyak 23 poin terkonsentrasi langsung pada sektor kecerdasan buatan, mencakup bobot model fondasi (model weights), kode sumber, sistem agen otonom, metodologi perancangan chip akselerator AI, hingga arsitektur klaster komputasi pusat data.
Dalam dokumen teknis yang dirilis untuk konsultasi publik hingga 15 November 2026, Beijing menetapkan kriteria kuantitatif ketat bagi model AI yang masuk kategori pembatasan ekspor. Lisensi khusus dari otoritas perdagangan diwajibkan bagi transfer teknologi model yang memenuhi salah satu dari tiga ambang batas: komputasi pelatihan mencapai 10^26 FLOPs, kapasitas parameter melampaui 2 triliun parameter, atau model yang menduduki peringkat sepuluh besar dunia (global top 10) berdasarkan tolok ukur evaluasi independen. Selain itu, draf regulasi melarang mutlak (prohibited) ekspor model AI yang dilatih menggunakan data sensitif nasional serta agen AI otonom yang bertugas mengelola infrastruktur informasi vital dan sistem pertahanan negara.
Kendati memperketat transfer teknologi inti lintas batas, otoritas Tiongkok menegaskan bahwa kebijakan ini tidak menyasar penggunaan komersial berbasis antarmuka pemrograman aplikasi (API). Melalui penjelasan resmi juru bicara kementerian, akses hosted API, interaksi antarmuka web, aplikasi SaaS, serta model yang telah dipublikasikan secara terbuka (open-source) tetap diizinkan beroperasi tanpa hambatan pembatasan baru. Fokus regulasi tertuju pada pengalihan kepemilikan aset intelektual digital berupa checkpoint, arsitektur algoritma, dan desain fisik pengemasan semikonduktor 2.5D serta 3D ke entitas asing di luar negeri.
Langkah terkoordinasi ini menandai pergeseran strategi geopolitik Tiongkok dari sebelumnya bersikap defensif menghadapi serangkaian sanksi ekspor chip dan piranti lunak EDA Amerika Serikat, menuju pembentukan instrumen regulasi tandingan yang mandiri. Dengan mewajibkan skema registrasi pra-ekspor sementara yang berlaku seketika sejak pengumuman terbit, Beijing berupaya melindungi keunggulan kompetitif laboratorium AI domestik seperti Qwen milik Alibaba dan DeepSeek, sekaligus mengunci kendali negara atas ekosistem agen otonom generasi berikutnya.