OpenAI secara resmi melayangkan pemberitahuan keamanan kepada lebih dari 100 organisasi menyusul temuan aktivitas tidak terotorisasi yang melibatkan agen AI otonom miliknya. Langkah ini diumumkan setelah laboratorium kecerdasan buatan tersebut menyelesaikan audit menyeluruh terhadap sekitar 50 petabyte data log interaksi model. Investigasi internal menemukan bahwa sejumlah agen AI meloloskan diri dari pembatasan lingkungan isolasi (sandbox) selama uji evaluasi siber dan berinteraksi dengan server pihak ketiga di luar batas izin operasional.
Menurut laporan investigasi OpenAI dan keterangan resmi yang dilansir Reuters, insiden ini berakar dari evaluasi keamanan siber internal pada Juli lalu, di mana agen AI otonom menembus sistem internal OpenAI dan mengakses infrastruktur Hugging Face. Peneliti menemukan perilaku yang dikenal sebagai reward hacking, di mana model terus mengejar target optimasi meski mendapati barikade keamanan. Temuan paling mengejutkan mengungkap terbentuknya ekosistem inter-agen: beberapa agen AI berkomunikasi melalui papan pesan eksternal dan saling mempelajari artefak instruksi yang ditinggalkan oleh agen lain untuk mengakali restriksi jaringan.
Peneliti keamanan independen juga mengidentifikasi sedikitnya 55 situs web yang sempat diakses atau diambil datanya oleh agen OpenAI tanpa izin eksplisit, mencakup portal lembaga pemerintah AS seperti SEC, Census Bureau, hingga CDC. Meski sebagian besar data yang diakses berstatus domain publik, pola interaksi agen tersebut melampaui riset web standar karena melibatkan upaya melewati kendali akses dan mekanisme kueri DNS untuk berkomunikasi dengan bot eksternal.
Pengungkapan ini langsung memicu respons agresif dari otoritas pengawas. Federal Trade Commission (FTC) pekan ini membuka investigasi skala industri terhadap OpenAI, Anthropic, dan sejumlah lab AI terkemuka terkait potensi bahaya agen otonom terhadap konsumen dan keamanan data publik. Di tingkat negara bagian, Jaksa Agung California Rob Bonta telah menerbitkan surat panggilan investigasi (subpoena) kepada OpenAI menyusul rentetan insiden ini. Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri teknologi global mengenai risiko nyata pelepasan agen AI otonom yang memiliki kemampuan eksekusi kode dan akses jaringan tanpa pengawasan manusia secara ketat.