Riset Bain & Co: Industri AI Wajib Hasilkan Pendapatan $6 Triliun per Tahun demi Menutup Lonjakan Belanja Data Center

Laporan tahunan Bain & Company memproyeksikan industri AI global harus meraup pendapatan $6 triliun per tahun pada 2031 guna mengimbangi lonjakan belanja infrastruktur data center dunia.

> date: 2026-09-30 | > source: Bloomberg, Bain & Company & Quartz | > 2m read
#artificial-intelligence #data-center #bain-company #tech-economy #cloud-computing
Riset Bain & Co: Industri AI Wajib Hasilkan Pendapatan $6 Triliun per Tahun demi Menutup Lonjakan Belanja Data Center

Laporan tahunan Global Technology Report 2026 yang dirilis Bain & Company mengungkapkan bahwa industri kecerdasan buatan global menghadapi tantangan finansial besar untuk membuktikan kelayakan ekonominya. Menurut riset tersebut, industri AI wajib mencatatkan pendapatan tahunan hingga $6 triliun pada tahun 2031 agar belanja modal (capital expenditure) untuk pembangunan pusat data (data center), chip akselerator, dan jaringan komputasi raksasa di seluruh dunia dapat mencapai titik impas secara berkelanjutan.

Sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg dan Quartz, Bain memperkirakan total belanja data center global akan menembus antara 5triliunhingga5 triliun hingga6,5 triliun pada 2030, yang akan menambah kapasitas daya komputasi baru hampir 150 gigawatt atau melonjak tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan. Pada tahun 2031, pengeluaran tahunan khusus untuk infrastruktur AI saja diproyeksikan mencapai 1,5triliunpertahun.Jikamenggunakanasumsibelanjamodalmenyerapsekitar25persendaritotalpendapatanindustri—rasiowajaryangbiasaditerapkanpenyedialayanancloudhyperscaler—makapasarAIglobalharusbernilaisedikitnya1,5 triliun per tahun. Jika menggunakan asumsi belanja modal menyerap sekitar 25 persen dari total pendapatan industri—rasio wajar yang biasa diterapkan penyedia layanan cloud hyperscaler—maka pasar AI global harus bernilai sedikitnya6 triliun per tahun untuk menopang skala investasi tersebut.

Meski demikian, Bain mencatat adanya celah pendapatan (revenue gap) yang sangat lebar. Layanan AI konsumen saat ini, seperti langganan asisten virtual dan iklan digital, diproyeksikan hanya mampu menyumbang antara 200miliarhingga200 miliar hingga400 miliar pada 2031. Sementara itu, adopsi AI di sektor enterprise untuk otomatisasi alur kerja software, layanan pelanggan, dan operasional IT diperkirakan menyumbang sekitar 1triliunhingga1 triliun hingga1,4 triliun. Gabungan kedua segmen ini baru menyentuh angka 1,2triliunhingga1,2 triliun hingga1,8 triliun, sehingga masih menyisakan jurang kekurangan sekitar $4,2 triliun pendapatan baru yang belum teridentifikasi sumber bisnisnya.

David Crawford, kepala divisi Global Technology di Bain & Company, menegaskan bahwa efisiensi produktivitas kerja saja tidak akan cukup menutup kesenjangan tersebut. Menurutnya, industri teknologi membutuhkan gelombang inovasi aplikasi baru yang jauh melampaui dampak era komputasi mobile dan cloud di masa lalu—seperti terobosan pada robotika fisik, penemuan obat otonom, hingga manajemen jaringan energi baru. Pembangunan infrastruktur saat ini dinilai bergerak jauh melampaui kurva permintaan riil, di mana pendanaan berkelanjutan untuk data center AI diperkirakan memerlukan tambahan sekitar 1 persen terhadap laju pertumbuhan PDB global tahunan.