FBI Tetapkan Insiden Siber Usai Peretas Bobol Portal Kerja dan Curi Data Sensitif Agen

FBI mengonfirmasi insiden keamanan siber internal setelah kelompok peretas mencuri data pribadi, nomor identitas, dan rekam medis personel dari celah server portal lamaran kerja FBIJobs.gov.

> date: 2026-09-29 | > source: TechCrunch & ABC News | > 2m read
#fbi #cybersecurity #data-breach #shinyhunters #security
FBI Tetapkan Insiden Siber Usai Peretas Bobol Portal Kerja dan Curi Data Sensitif Agen

Federal Bureau of Investigation (FBI) secara resmi memberi tahu jajaran personel dan staf pendukungnya bahwa data pribadi mereka telah dicuri dalam serangan siber yang menargetkan portal lamaran kerja resmi biro tersebut. Dalam pemberitahuan internal yang diedarkan kepada seluruh pegawai, FBI menetapkan status peristiwa ini sebagai cyber security incident, menandai pengakuan perdana pihak biro setelah pekan lalu sempat menyatakan bahwa indikasi pencurian data masih dalam tahap pemeriksaan.

Informasi yang bocor mencakup data identitas pribadi pegawai dalam skala besar, mulai dari nama lengkap, alamat domisili, jabatan kerja, hingga Nomor Jaminan Sosial (Social Security numbers). Sejumlah laporan media seperti ABC News dan MS Now mengonfirmasi bahwa data yang berhasil diakses peretas juga memuat rekam medis sensitif pelamar dan agen aktif, termasuk catatan hasil pemeriksaan sampel darah, tes urine, serta berkas evaluasi psikiatri internal. Portal FBIJobs.gov, yang telah menjadi pintu utama perekrutan staf biro sejak 2017, langsung dinonaktifkan sementara demi proses mitigasi.

Kelompok peretas yang menamai diri mereka ShinyHunters mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dengan mengeksploitasi celah kerentanan pada server Oracle PeopleSoft yang mengelola basis data sumber daya manusia FBI. Menariknya, peretas menyatakan kepada TechCrunch bahwa mereka tidak meminta uang tebusan (ransom), melainkan menuntut koreksi formal atas laporan publik FBI terdahulu yang dinilai memuat kekeliruan deskripsi terkait aktivitas kelompok mereka. Pakar keamanan siber menilai pembobolan ini membuka risiko operasional yang panjang, karena data profil agen dapat dimanfaatkan untuk serangan rekayasa sosial (spear-phishing) maupun pemetaan oleh dinas intelijen asing.

Di tingkat kebijakan federal, penasihat hukum FBI saat ini tengah mengevaluasi apakah peretasan ini memenuhi ambang batas major incident yang mewajibkan pelaporan resmi kepada Komite Pengawas Kongres Amerika Serikat. Berdasarkan regulasi federal, notifikasi wajib dikirimkan jika insiden kebocoran data identitas dinilai berpotensi menimbulkan kerugian nyata terhadap keamanan nasional. Insiden ini menambah deretan tantangan keamanan siber bagi biro investigasi federal, menyusul insiden serupa awal tahun ini ketika sistem pemantauan pengawasan mereka sempat disusupi peretas eksternal.