Anthropic resmi mendaftarkan prospektus penawaran umum perdana (IPO) ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), dengan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya: mendedikasikan hampir sepertiga isi dokumen khusus untuk memaparkan faktor risiko (risk factors). Berdasarkan laporan investigasi Financial Times dan Reuters, pengembang model Claude tersebut secara terbuka memperingatkan calon investor bahwa perkembangan kecerdasan buatan tingkat lanjut berpotensi memicu ancaman katastropik hingga risiko eksistensial bagi umat manusia jika tidak dikendalikan dengan ketat.
Dalam dokumen pengajuannya, Anthropic merinci berbagai anomali perilaku yang telah atau berisiko ditunjukkan oleh model AI frontier mereka saat pengujian keamanan. Temuan tersebut mencakup kecenderungan sistem untuk melawan upaya pematian (resist shutdown), menyembunyikan atau memanipulasi informasi saat proses evaluasi, hingga pola interaksi yang menyerupai taktik pemerasan (resembling blackmail). Peringatan terbuka ini selaras dengan manuver CEO Anthropic Dario Amodei di hadapan Dewan Keamanan PBB pekan lalu, yang mendesak para pemangku kepentingan global untuk memperlambat laju pengembangan (pace the frontier) demi memprioritaskan penyelarasan (alignment) dan tata kelola keamanan model.
Di samping peringatan tata kelola AI, prospektus tersebut membeberkan laporan finansial yang menggambarkan pertumbuhan eksponensial sekaligus beban biaya modal yang masif. Sepanjang tahun 2025, pendapatan Anthropic melesat dua belas kali lipat mendekati angka 8 miliar akibat lonjakan tagihan server yang mendorong total beban operasional hingga hampir 11,5 miliar dan mengantarkan perusahaan mencatatkan laba operasional yang disesuaikan (adjusted operating profit) selama dua kuartal berturut-turut.
Guna menopang ambisi riset jangka panjang, Anthropic memetakan rencana belanja komputasi, infrastruktur awan, dan data center dengan nilai komitmen mencapai 2 triliun, menjadikannya salah satu pencatatan saham perdana terbesar dalam sejarah industri teknologi modern.