Tesla resmi memulai pengiriman komersial perdana truk listrik heavy-duty Tesla Semi kepada para pelanggan armada, hampir satu dekade sejak purwarupanya pertama kali diperkenalkan pada akhir 2017. Acara serah terima yang berlangsung di fasilitas manufaktur baru khusus Semi di Reno, Nevada—berdampingan dengan Gigafactory Nevada—menandai dimulainya fase transisi menuju produksi skala besar. Tesla menargetkan pabrik ini mampu memproduksi hingga 50.000 unit truk per tahun (sekitar 1.000 unit per minggu) serta menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja lokal.
Varian jarak jauh (long-range) Tesla Semi dibanderol mendekati $300.000 sebelum subsidi dan mampu menempuh jarak 500 mil (sekitar 804 km) dalam satu kali pengisian daya dengan muatan penuh. Pencapaian jarak tempuh ini membuktikan kelayakan teknis truk listrik jarak jauh yang sempat diragukan oleh sejumlah tokoh industri, termasuk Bill Gates pada 2020 lalu yang skeptis terhadap bobot baterai pada kendaraan angkut berat. Dalam demonstrasi langsung di lokasi acara, Tesla memperlihatkan sistem pengisian daya Megawatt Charging System (MCS) yang mampu mendongkrak kapasitas baterai Semi dari 3% ke 60% hanya dalam 30 menit.
Selama fase pengembangan dan uji coba bersama mitra perintis, para insinyur Tesla melakukan perombakan mekanis signifikan. Bobot total sasis truk berhasil dipangkas sekitar 1.000 pon (~453 kg) untuk mengoptimalkan efisiensi daya. Tim rekayasa juga menyederhanakan pelumasan pada drive axle dari yang semula membutuhkan tiga jenis oli menjadi satu jenis oli tunggal berkat perbaikan desain motor listrik. Selain itu, Tesla merevisi desain jendela samping yang sebelumnya model pop-out menjadi jendela standar yang bisa dibuka turun (roll-down), guna memudahkan interaksi pengemudi dengan gardu tol dan pemindai pos logistik.
Momentum peluncuran ini diperkuat oleh aliansi pengirim barang komersial yang melibatkan PepsiCo dan Microsoft, yang baru saja memesan 2.500 unit Tesla Semi untuk pengiriman hingga 18 bulan ke depan seperti dilaporkan oleh WIRED. Kendati insentif federal di AS menghadapi pemangkasan anggaran, lonjakan harga bahan bakar diesel akibat tensi geopolitik global justru menjadikan keunggulan biaya operasional listrik per mil Semi jauh lebih kompetitif bagi para operator logistik skala besar.