Oracle Layangkan Klausul Force Majeure di Proyek Data Center AI Stargate Akibat Kendala Energi

Oracle melayangkan klausul force majeure pada proyek data center Project Jupiter di New Mexico guna menunda pembayaran sewa jika fasilitas 2,45 GW ini gagal beroperasi tepat waktu pada 2028.

> date: 2026-09-25 | > source: TechCrunch & Bloomberg | > 2m read
#oracle #ai data center #stargate #infrastruktur #komputasi awan

Oracle secara resmi melayangkan pemberitahuan klausul force majeure kepada pengembang Project Jupiter, kompleks data center kecerdasan buatan berkapasitas 2,45 gigawatt yang tengah dibangun di New Mexico. Menurut laporan investigasi Bloomberg yang dikonfirmasi oleh TechCrunch dan CNBC, langkah hukum ini diambil raksasa komputasi awan tersebut guna membatasi risiko liabilitas dan menunda kewajiban pembayaran sewa apabila proyek bernilai miliaran dolar ini terlambat beroperasi dari target semula pada tahun 2028.

Project Jupiter merupakan salah satu simpul infrastruktur utama dari inisiatif superkomputer AI Stargate yang dirancang bersama OpenAI dan SoftBank. Namun, proses pembangunannya di Santa Teresa, Doña Ana County, terus dihantam serangkaian kendala perizinan energi. Kompleks data center ini dirancang beroperasi mandiri menggunakan fuel cell berbahan bakar gas bumi pasokan Bloom Energy. Masalahnya, proyek pipa transmisi gas dari Energy Transfer telah mengalami penundaan jadwal hampir enam bulan hingga Februari 2027 setelah otoritas regulator menolak izin jalur beberapa kali, yang memaksa rute pipa dialihkan.

Selain kendala pasokan gas, izin kualitas udara (air-quality permit) untuk sistem fuel cell tersebut saat ini masih tertahan di Departemen Lingkungan Hidup New Mexico dengan tenggat evaluasi akhir pada 23 November 2026. Tekanan regulasi ini kian memanas akibat gelombang penolakan dari warga lokal dan pegiat lingkungan yang mencemaskan emisi serta dampak konsumsi air berskala besar. Meski demikian, juru bicara Oracle menegaskan bahwa Project Jupiter tetap berjalan sesuai jadwal dan perusahaan berkomitmen penuh menyelesaikan proyek tersebut. Mitra pengembang, unit dari Blue Owl Capital, juga menyatakan bahwa komitmen finansial jangka panjang tidak mengalami perubahan.

Manuver hukum Oracle ini memicu penurunan harga saham perusahaan hingga 5% di Wall Street, sekaligus menyoroti benturan nyata antara target ekspansi data center AI hyperscale dan batasan fisik infrastruktur energi di dunia nyata. Dengan kebutuhan komputasi model AI generasi baru yang melonjak tajam, ketersediaan pasokan listrik, jalur transmisi gas, dan regulasi lingkungan lokal kini menjadi faktor penentu utama yang mampu menggoyahkan jadwal peluncuran fasilitas superkomputer AI paling ambisius di industri.